PROMOSIKAN MESIN CUTTING, BAHAN STICKER ATAU USAHA STICKER ANDA DI SINI. HUBUNGI 0812 9039 8495

Sukses

JANGAN BACA YANG DI BAWAH INI JIKA ANDA TAK SIAP UNTUK MENJADI ORANG YANG BISA DIBANGGAKAN. KEBANGGAAN DIRI, DIBANGGAKAN KELUARGA BAHKAN DIBANGGAKAN BANYAK ORANG. ARTIKEL DI BAWAH INI HANYA UNTUK ANDA YANG BERANI SUKSES, ANDA YANG SIAP MENGHADAPI KONDISI ZAMAN DENGAN SEBUAH KEBERANIAN DAN KETEPATAN MEMILIH JALAN HIDUP.
Bisnis menarik yang jarang dilirik
Usaha yang kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang.
Beberapa tahun silam, saya mengawali berjualan stiker cutting di depan Swalayan Pinang Lestari, sebuah pusat perbelanjaan di Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Supaya tak menyewa tempat, saya memanfaatkan trotoar jalan. Setelah minta izin sejumlah pedagang kakilima tentunya. Upaya ini saya lakukan setelah satu kardus stiker yang dikirimkan teman menumpuk di rumah. Mengapa menumpuk, karena setiap kali mengajak teman berjualan stiker jawabannya selalu sama: mana laku stiker? Bukankah kendaraan keluar pabrik juga sudah dilengkapi stiker?
Sebuah jawaban yang sempat mengganggu harapan yang diceritakan teman yang sudah lebih dahulu menggeluti bisnis ini. Sekardus stiker tadi bukan dikirimkan gratis, melainkan kami membelinya meski uangnya tak seberapa. Ternyata begitu barang dikirim, kami sendiri tak percaya, apa memang benar stiker yang akan saya. Ini patut dicatat: jangan pernah ragu dengan apa yang ingin dilakukan dan yakin berhasil!
Saya nekat berjualan karena kepepet uang. Apalagi teman yang mengirimi stiker justru meninggalkan beban, yaitu jumlah barang yang diberikan nilainya lebih besar dari modal awal saya (Mas Fahmi, terima kasih atas utangan stikernya). Sebagai perantau, saya tak bisa mengandalkan pinjam sana-sini. Saya harus berjualan meski tak ada yang mendukung sepenuh hati. Malam pertama berjualan, saya tak menyangka laku. Yang penting niat mencari rezeki dengan cara halal. Dan di malam pertama itu saya meyakinkan diri. Malam kedua, ketiga, keempat hingga sebulan kemudian saya mendapatkan penghasilan yang sungguh di luar perkiraan saya. Saking khawatir dapat berapa sebulan, saya sengaja menyimpan uang di dalam kaleng dan tidak saya bukan sebelum sebulan.
Dengan hanya berjualan stiker jadi (belum merambah ke bahan), di akhir bulan hasilnya melebihi gaji saya sebagai seorang wartawan di Grup Jawa Pos. Saya bersyukur dan ada harapan untuk menekuni usaha ini.  Mungkin Anda lupa, inilah nikmatnya berjualan barang tanpa label harga. Begitu ada desain yang tengah trend, saya bisa sesuaikan harganya. Tentu saja di dalam batas kewajaran. Intinya, jangan remehkan barang dagangan yang wujud atau fisiknya berukuran kecil karena darinya akan menghasilkan sesuatu yang besar.
Setahun di kaki lima, sampai mahir memasang tali dan tiang pancang di tepi jalan untuk pajangan stiker, akhirnya saya menyewa kios permanen di depan RRI Tanjungpinang.  Inilah kios yang saya sewa itu, per bulan Rp300.000. Sangat sederhana, hanya ada satu etalase untuk memajang stiker cutting. Saya terpaksa memanfaatkan dinding luar kios untuk pajangan. Pelanggan kebanyakan adalah anak-anak kecil. Karena siangnya saya bekerja, saya dibantu seorang pegawai yang sebelumnya sudah saya beritahu jika hasilnya belum seperti harapan, ya gajinya di bawah UMK . Tetapi saya bersyukur bisa menyewa tempat yang sederhana ini. Dan pegawai saya tahu benar bahwa inilah perjuangan.
Untuk senantiasa mengingat perjuangan dan kerja keras, tempat jualan di kaki lima tetap dipertahankan, dikelola teman yang sangat bisa dipercaya. (Kelak tempat ini saya beri nama Pasar Stiker)

Karena modalnya belum banyak, kami hanya mampu menyewa kios kecil ini
Dengan dua tempat, satu di kios dan lain kaki lima, saya mulai yakin bahwa apa yang selama ini saya bayangkan bisa terwujud. Paling tidak, saya bisa menyisakan penghasilan untuk menabung. Sesuatu yang sebelumnya masih sebatas impian. Waktu itu saya mulai berani menerima pesanan. Ya, dengan tangan sebagai mesinnya. Desain saya cetak di kertas, lalu dipotong pakai cutter. Bahan stiker saya letakkan di bawah lembaran kertas desain. Kalau menggoresnya terlalu dalam, stiker rusak karena terpotong sampai kertas pelapisnya. Diomeli konsumenr sering sayai terima, karena memang hasil potongan tak bisa serapi jika menggunakan mesin cutting sticker. Toh semua saya jadikan pelajaran.
Setahun berikutnya saya menggembleng diri. Menekuni dan meyakini stiker akan bisa saya jadikan pegangan hidup. Hingga keinginan saya memiliki mesin cutting akhirnya terwujud. Saya belajar dari internet, berkali-kali memutar aneka tayangan mengenai stiker cutting melalui YouTube. Sebuah mesin cina menemani hari-hari saya berikutnya. Bisa Anda bayangkan, seharian saya mencari berita di lapangan, malamnya saya harus mengerjakan stiker baik pesanan maupun untuk stok di toko.
Satu hal penting lain yang ingin saya sampaikan: jangan salahkan peralatan ketika ingin maju. Meski saya menggunakan mesin Cina, namun saya jaga kerapian desain serta inovasi yang tiada henti. Alhamdulillah ternyata bukan soal mesin dari mana yang membuat saya berkembang, melainkan semangat dan keyakinan bahwa saya juga bisa meraih sukses dari stiker.
Konsistensi saya membuahkan hasil. Tak lagi memproduksi stiker untuk dijual sendiri, saya mulai melayani pembelian secara grosiran dari pedagang-pedagang kaki lima lain. Hasilnya saya kumpulkan dan saya kelola sebaik mungkin.  Jika Anda tak percaya saya mampu melakukannya hanya dari usaha stiker, saya pun memiliki anggapan yang sama waktu itu.
Tetapi sekarang bisa saya katakan: stiker tak akan pernah mati ketika kendaraan bermotor masih diproduksi. Juga dengan hadirnya kantor-kantor pemerintah atau swasta serta aneka usaha lain. Intinya, jangan pernah malu mendatangi kantor pemerintahan, dinas, badan dan sebagainya. Tawari contoh stiker Anda dan katakan Anda mampu membuatnya.
Alhamdulillah, sebuah ruko di pusat kota bisa saya sewa. Tetapi jangan berpikir saya langsung mampu menyewanya sekaligus. Waktu itu ada teman membuka agensi koran dan majalah. Saya hanya menyewa tempat seluas satu etalase plus kursi untuk menunggu. Kios di depan RRP saya tutup dan pegawai saya pun pindah ke tempat baru. Setahun lebih sekian bulan, agensi teman saya kolaps. Tentu saja saya ikut bingung. Saya diminta meneruskan. Saya harus minta pendapat teman teman dekat. Setelah menimbang dan menghitung ulang keuangan yang belum bisa disebut mapan, akhirnya saya memberanikan diri mengambil tempat tersebut.
Bangga rasanya bisa menyewa bangunan di dekat usaha lain seperti apotek, rumah makan ternama, hotel dan pelabuhan. Letaknya di Jalan Bintan Nomor 12 Tanjungpinang. Sebuah tempat jualan yang sama sekali tak pernah terbayangkan bisa saya sewa. Banyak yang mengatakan saya beruntung, tetapi saya lebih suka mengatakan: semua karena saya tak ingin mati oleh keadaan. Okelah, katakan memang keberuntungan, tetapi kalau saya tak bergerak di lapangan, rela tidur dengan sedikit waktu dan kerja keras apakah saya bisa memiliki ini semua? Anda harus yakin jika ingin memulai sesuatu.
Toko1
Toko2Toko Sahabat Stiker Jalan Bintan 12 Tanjungpinang, Kepri.
Apa yang saya sampaikan bukan sebuah cerita sinetron. Yang saya sampaikan hanya sebuah perenungan buat apa sibuk memikirkan sesuatu yang begitu jauh dari jangkauan. Anda bisa seperti saya bahkan berpuluh-puluh lipat lebih besar dari saya jika mau dan berusaha serta bekerja keras. Niatkan usaha Anda dengan sebuah niat baik, Insya Allah harapan yang dicitakan bisa terwujud. Saya juga bangga bisa menularkan virus stiker kepada kakak kandung saya yang sempat kebingungan karena gagal menjadi caleg dari sebuah parpol. Waktu itu saya mendapatkan kabar kegagalan kakak saya yang memang memiliki jiwa kepemimpinan dengan banyak kawan di sana sini. Rupanya modal itu tidak cukup untuk belajar politik.
Sebagai adik, saya menawarinya untuk datang ke Tanjungpinang. Saya ajak ke tepi jalan (saat itu saya masih jualan kaki lima di depan Pinang Lestari) dan melihat pembukuan.  Alhamdulillah kini kakak lelaki saya pun yakin menggantungkan perekonomian keluarganya dari stiker (Terima kasih Mas Priyo atas ide, kritikan, saran dan jualan malam bersama di tepi jalan). Kini kakak lelaki saya memiliki sebuah usaha stiker dan menjadi langganan banyak orang di Kaliampo, Jalan Raya Kudus – Pati, Jawa Tengah).
Kalau saya menuliskan semua ini, bukan karena saya ingin Anda juga memesan kepada saya. Silakan pesan atau grosir ke mana saja, karena akan Anda temukan begitu banyak grosir stiker di Indonesia. Saya hanya ingin memberikan kesaksikan kepada Anda yang saat ini masih terpekur memikirkan kondisi kantong yang selalu kempes: bangkitlah, cobalah berjualan stiker. Awali dengan modal seadanya, datang ke toko grosir stiker, mintalah stiker yang tengah laris di pasaran, lalu berjualanlah Anda. Atau yang tak tertarik dunia stiker, jalani usaha yang sesuai keinginan. Apa saja jenisnya, tekuni dan yakini.
Khusus untuk stiker, jika modalnya kecil, pilih sudut jalan yang strategis, yang tak perlu sewa. Ambil terang lampu jalan, daripada membayar lampu dari pedagang lain. Buatlah sesimpel mungkin dengan biaya yang minim. Yang lebih penting, usahakan menetap jualan di satu lokasi agar orang lain tahu oh ada penjual stiker di simpang anu atau sudut anu.
Satu lagi yang ingin saya sampaikan, jika Anda termasuk orang yang menyukai corat-coret, terimalah pesanan. Karena hasilnya lebih besar. Jangan selalu terpaku bahwa pesanan stiker harus dilakukan dengan mesin cutting. Jika Anda yakin sebuah desain bisa diselesaikan dengan tangan, terima saja pesanan itu. Stiker adalah karya seni, jangan rendahkan kemampuan dan bakat Anda dengan memberikan harga yang kelewat murah asalkan laku. Buang pemikiran seperti itu, karena Anda profesional.
Alhamdulillah, dari penjual stiker cutting kakilima, lalu memproduksi sticker sendiri,  kini kami disupport penuh oleh CV Istana Indonusa (baca halaman Grosir. Terima kasih Pak Suganda).
Ekspansi saya lakukan. Seperti saya singgung di atas, tempat jualan kaki lima saya jadikan  Pasar Stiker. Jika toko utama buka siang hari, Pasar Stiker buka malam hari untuk menjaring calon pembeli yang hanya memiliki keluar rumah malam hari. Jangan bayangkan pasar itu semuanya ada, yang ada hanya stiker. Tetapi begitulah cara saya membranding sesuatu, membuat orang penasaran. Saya memercayakan kepada teman dekat untuk menunggunya. Dan ….. berhasil.
Blog - Pasar Stiker
Ekspansi saya tak terhenti sampai di sini. Tanggal 5 Januari 2014 lalu saya pun membuka Bintan Wrapping, pusat wrapping dan stiker variasi di Kepri. Tempat ini saya buka karena banyaknya permintaan dari pemilik kendaraan roda empat pada khususnya. Terima kasih kepada Rapenza Nafulani dari Trangkil, Pati atas kesediaannya merantau dan mengelola Bintan Wrapping.
Blog - Bintan Wrapping1
Blog - Bintan Wrapping3
Blog - Bintan Wrapping7
Ekspansi terus saya lakukan, tiga bulan kemudian saya membuka Bintan Wrapping 2 di komplek SPBU Batu 16 arah Tanjunguban, Bintan. Selain wrapping, di sini saya melayani pemasangan kaca film mobil.
Bintan Wrapping 2
Bintan Wrapping Batu 16
Mengingat toko di Jalan Bintan dan Pujasera Jebonk membutuhkan tempat yang lebih luas, pada tanggal 10 Maret 2015 kedua tempat tersebut saya satukan di sebuah ruko. Saya beri nama Bintan Wrapping, di JL DI Panjaitan Nomor 52 Batu 9, Tanjungpinang, Kepri. Alhamdulillah tempat yang lebih luas mendapatkan respon pelanggan maupun konsumen baru.
BW3
BW1
BW2

1 Response to "Sukses"