PROMOSIKAN MESIN CUTTING, BAHAN STICKER ATAU USAHA STICKER ANDA DI SINI. HUBUNGI 0812 9039 8495

Sebuah Catatan - Botol Sprite di Rak Pintu Kulkas

Pagi ini, kulihat isinya tinggal sedikit.
Tanggal 11 Juni 2017, bulan Ramadan masih berjalan, anakku M Farand Ilalang berulang tahun ke-14. Seperti ulang tahun sebelumnya, aku membiasakannya untuk tidak membayangkan sesuatuyang istimewa. Justru setelah usianya bertambah ada tugas tugas lain yang harus dilakukannya. Tentu saja tugas tersebut semacam program disiplin atau pengembangan wawasan untuk bekalnya kelak. Biasanya ia akan mengajakku makan makan, memilih menu yang saat itu sedang diinginkan. Bukan persoalan mahal atau murahnya, ia lebih semangat untuk menyantap apa yang dia mau dan inginkan pada suatu masa.

Mungkin juga karena Ramadan, dan Ilalang juga harus berpuasa. Kebetulan sejak kelas 3 sekolah dasar, bocah perperawakan tambun ini sudah biasa mengerjakan puasa Senin Kamis. Yang berbeda justru Sabtu, tanggal 17 Juni kemarin. Saat aku mengantarnya ke sekolah sekaligus pengambilan rapor. Setelah sekian semester akhirnya Ilalang berhasil naik peringkat, juara dua. Sebelumnya pernah tiga besar, lalu seperti kebanyakan remaja, waktunya lebih banyak untuk game dan main sehingga hanya bisa masuk ke lima besar. Saat dekat, kulihat titik air mata di matanya. Aku sudah hafal, ketika rankingnya melorot ia memang diam, namun terlihat butiran bening di sudut matanya. Itu selalu terjadi.

Sebagai bentuk penghargaan ayah kepada anaknya, aku peluk Ilalang. Aku jabat tangannya sambil membisikkan kalimat: kalau lebih rajin membuka buku, Tuhan memberikan jalan, kan, Nak? Namun bukan suasana sekolah atau hal lainnya ingin aku bagikan di sini. Rupanya, ada kejadian yang membuat aku harus merenungkannya. Bukan aku tak peduli dengan ranking dua Ilalang, tetapi ia memang bukan tipe anak yang suka meminta. Dan ia juga akan mengatakan tidak ketika ditanya ingin hadiah apa.

Entah meniru siapa, untuk urusan penampilan Ilalang adalah remaja lelaki yang cuek. Belakangan saja ia pasrah ketika kuajak ke supermarket untuk membeli beberapa helai t-shirt. Itu pun setelah kukasih tahu bahwa t-shirt yang ingin aku belikan untuknya semua bergambar grup musik rock. Atau cuek itu rock? Hahahaha. Kalau urusan musik, anak inilah dunianya. Ia berah memilih lagu lagu di sejumlah situs penyedia donlot lagu gratis. Sebelumnya ia mendengarkannya, kalau dirasa bagus ya sudah, sedot ke hardisk.

Justru ia memilih berulang tahun dengan teman sekolahnya. Itu p[un tidak aneh aneh, minta izin nonton bioskop. Maklum, Tanjungp[inang baru kali pertama memiliki studio sekelas XXI di Tanjungpinang City Centre, yang jaraknya dari rumah hanya 15 menit perjalanan dengan sepeda motor.

Sorenya, saat menjelang berbuka puasa kulihat ada sebotol Sprite di rak pintu kulkas di dapur. Tak biasanya ada yang membelinya. Karena aku lebih memilih dan menyarankan agar memperbanyak mengisi botol kosong dengan air putih. Aku juga sudah memilih air isi ulang yang RO, bukan asal isi ulang tanpa kuketahui asal sumber airn yang diprosesnya. Dan aku bertanya, siapa yang membelinya.

"Saya, yah. Mas Lalang senang saja kembali juara dua," tiba tiba Ilalang menjawab.

Aku seorang ayah. Merasa sudah pasti mengenal keinginnan anaknya. Sekian belas tahun sebenarnya aku tahu Ilalang bukanlah anak yang suka merayakan keberhasilannya seperti itu. Ia lebih asyik dengan kecuekannya. Dan kali ini aku salah. Bisa jadi ia adalah anak yang sebentar lagi menjadi dewasa. Dan aku terdiam mendengar pengakuannya itu. Ada perasaan malu di hati ini.

Lalu kutanya, apakah Ilalang ingin makan di luar untuk berbuka? Ia menggeleng, meneruskan bahwa entah mengapa sore itu ia ingin membeli Sprite. Dan malamnya, usai tarawih, ia keluar dengan rombongan temannya menonton bioskop. Ya sudah anakku, nikmati bahagiamu. Biarkan ayahmu menikmati rasa bersalahnya.

0 Response to "Sebuah Catatan - Botol Sprite di Rak Pintu Kulkas"

Post a Comment